======================
Pengantar You-Know-Who: Tadi malam, aku iseng-iseng menulis namaku di kotak pencarian 'google'. Penasaran aja, namaku udah tayang di web mana aja. Huh..narsiz banget..,hehe. Ternyata dari hasil temuan, ada karyaku yang aku udah lupa bahwa aku pernah membuatnya.
Dulu, aku pernah menulis untuk Buletin El-Madani. Untuk kolom tetap yang bernama Madrasah Ruhani. Aku lupa pernah nulis untuk berapa edisi. Udah lama sih. Apalagi aku orangnya kurang tertib dokumentasi. Beruntunglah ada media online, yang memberi banyak kemudahan untuk kita. Agar tidak kehilangan kedua kali, maka kuposting disini.
======================
Air Kehidupan Telah Dituangkan
Oleh: Fauzi A Muda
Katakanlah: 'Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.'
(QS. al-Jumu’ah: 62)
Alkisah, ada seorang laki-laki kaya paruh baya mendatangi Sang Murshid. “Guru, saya sudah bosan hidup. Rumah tangga saya berantakan. Perusahaan yang saya pimpin kolaps, diambang kebangkrutan. Anak-anak saya tidak ada yang bisa dibangggakan. Pokoknya, apa pun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati saja. Hari inipun saya siap”
Sang Murshid tersenyum, “Oh, kamu sakit.”
“Bukan Guru, saya tidak sakit. Saya sangat sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati.”
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan, “Kamu sakit, dan penyakitmu itu namanya ‘Alergi Hidup’. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan.”
“Tapi jangan kuatir, penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku.” demikian saran sang Guru.
“Tidak Guru, tidak. Saya sudah benar-benar ingin mati. Saya tidak ingin hidup.” Laki-laki itu menolak tawaran sang guru.
“Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu benar-benar ingin mati?”
“Ya, saya sudah bosan hidup.”
“Baiklah, besok malam kamu akan mati”, Kata sang Guru sambil menyerahkan dua botol berisi air racun, ”Ambillah dua botol racun ini. Satu botol minumlah malam ini, satu botol lagi minumlah besok petang. Malamnya kau akan meninggal dengan tenang.”
Setelah mendengar perintah sang Guru tadi, laki-laki itu menjadi bingung. Setiap Master dan psikiater yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Tapi yang satu ini aneh. Ia malah menawarkan racun. Apa boleh dikata, karena memang sudah betul-betul jenuh, laki-laki itu menerimanya dengan senang hati.
Sesampai di rumah, ia langsung meneguk habis sebotol racun. Ia merasakan ketenangan sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai!
“Hidupku tinggal sehari semalam, dan aku akan mati. Aku akan bebas dari segala macam masalah kehidupan”, katanya dalam-dalam.
Malam harinya, ia memutuskan untuk makan malam bersama anak-istrinya di restoran mahal. Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan bersama keluarga selama beberapa tahun terakhir. Karena ini malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya benar-benar cair!
Sepulang dari restoran, sebelum tidur, ia mencium kening istrinya kemudian berbisik di telinga istrinya, “Sayang, aku mencintaimu.” Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!
Pagi-pagi, ia membuka jendela rumah dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi bersama istrinya. Pulang ke rumah setengah jam kemudian, langsung ke dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!
Sang istri merasa ada aneh pada suaminya, kemudian berkata, “Sayang, apa yang terjadi hari ini? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku, sayang.”
Setelah itu ia berangkat ke kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Bawahan-bawahannya menjadi bingung.
“Hari ini, Bos kita kok aneh?. Sangat ramah!”
Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka menjadi lembut. Suasana di kantor hari itu sangat menyenangkan. Karena siang itu adalah siang terakhir, sekali lagi, ia ingin meninggalkan kenangan manis!
Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.
Pulang ke rumah sore hari, ia melihat istri tercinta sudah menunggu di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman hangat kepadanya, “Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkanmu.”
Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, “Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu stres karena perilaku kami.”
***
Tiba-tiba, sungai kehidupan mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mulai berpikir untuk mengurungkan niatnya bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan sebotol racun yang sudah ia minum, sore sebelumnya?
Sore itu juga, ia langsung mendatangi sang Murshid lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Murshid langsung mengetahui apa yang telah terjadi.
“Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh, kini kau hidup dalam kekinian. Apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sang kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan.”
Sang Murshid ini memang benar. Banyak sekali di antara kita yang alergi hidup dan bosan terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini terus berjalan. Sungai kehidupan mengalir terus. Terkadang kita ingin berhenti di tempat, tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Resistensi terhadap kehidupan membuat kita sakit.
Air kehidupan telah dituangkan! Wallahu a’lam
Menara Petir, Mei ‘07
Fauzi Ahmad Muda
Simpatisan Tarekat Mevlevi
Lanjutin bacanya ya...